Lentera minggu ini:

MELIHAT SEPERTI KRISTUS

Yohanes 9 : 1 – 41

Dalam hidup ini terkadang cara pandang akan mempengaruhi bagaimana kita memperlakukan atau menilai seseorang. Pandangan akan kabur oleh adanya prasangka, tradisi atau penghakiman pribadi. Melalui bacaan Yohanes 9 : 1 – 41 tentang Kisah Penyembuhan Orang Buta Sejak Lahir, kita diajak untuk menanggalkan “kacamata duniawi”, buka hati dan pikiran, mohon tuntunan Roh Kudus untuk memperbaharui pandangan agar selalu mampu melihat sesama dan kehidupan ini melalui sudut pandang kasih Sang Juruselamat
Perikop Yohanes 9 : 1 – 41, tersirat tiga cara pandang yang berbeda terhadap seorang yang buta sejak lahir. Pandangan para murid yang cenderung menghakimi, pandangan orang Farisi dari sisi aturan, dan pandangan Yesus lebih ke arah belas kasihan dan pengharapan.

  1. Pandangan para murid, saat melihat orang buta itu pertanyaan yang muncul adalah “siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?”. Bagi mereka, penderitaan hanyalah masalah teologis atau akibat dari kutuk masa lalu. Mereka terjebak pada mencari kesalahan daripada memberikan Solusi.
  2. Pandangan orang Farisi. Mereka melihat kesembuhan orang buta itu bukan sebagai mujizat yang patut disyukuri, melainkan sebagai pelanggaran hukum karena terjadi di hari sabat. Bagi mereka aturan jauh lebih penting daripada pemulihan hidup manusia.
  3. Pandangan Yesus. Yesus tidak sibuk mencari siapa yang bersalah, Dia melihat – bergerak – ada hasil. Bagi Yesus kondisi ini adalah sebuah kesempatan agar “pekerjaan- pekerjaan Allah dinyatakan dalam dia (sibuta) (ayat 3)”. Artinya bahwa kebutaan seseorang bukan akibat dosa, melainkan kesempatan bagi kuasa dan pekerjaan Allah untuk dinyatakan. Yesus melihat kenyataan yang ada tentang cacat fisik dan stigma sosial. Seorang manusia sangat berharga butuh pertolongan Nya.

Kita sering seperti para murid dan orang farisi, melihat secara jasmani tetapi buta secara rohani karena hanya melihat orang lain dari kekurangan, kesalahan masa lalu, atau status sosialnya. Demikian juga tentang lingkungan yang kita huni sudah semakin rusak tetapi kita pura-pura tidak tau atau tidak mau tau dengan yang terjadi seolah olah masa bodoh dengan sekitar kita. Firman Tuhan mengajak kita semua untuk membuka mata (jangan pura-pura buta) bahwa Kerusakan alam, krisis sampah, dan masalah lingkungan lainnya harus bersama-sama diatasi, tidak perlu melihat siapa yang membuang, siapa yang merusak, atau siapa yang menangani. Mata hati kita segera bergerak untuk ikut ambil
bagian memelihara lingkungan. Tuhan Yesus membutuhkan hati yang mau ikut terlibat menjaga dan terus mengelola ciptaan-Nya. Dalam Yesus ada pengharapan dan belas kasih.
Amin
Tuhan Yesus Memberkati.

PM