Dari Kematian Menuju Kehidupan
Yohanes 11:1-45
Ketika kita mendengar kata percaya, seringkali yang terbersit dalam benak kita adalah sekedar sebuah kata saja yang tanpa dasar atau bukti kuat terhadap sesuatu atau seseorang yang menjadi sasaran kata tersebut. Bahkan dalam kekristenan seringkali pula kita mendengar pernyataan bahwa,” Asal percaya saja maka kita selamat.”
Apakah sesederhana itukah keselamatan? Bahkan Yesus berkata,”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (ayat 40).
Sekali lagi, sesederhana itukah?
Kebangkitan Lazarus merupakan salah satu dari serangkaian tanda yang dimulai sejak mujizat air menjadi anggur di Kana yang bertujuan untuk membuat umat menjadi percaya kepada Yesus sebagai Sang Anak yang diutus Bapa. Tetapi dalam kenyataannya kita hanya menaruh percaya pada mujizatNya saja bukan pada Dia yang berkuasa melakukan mujizat itu. Artinya kita menjadi sulit berserah pada Dia selama kita belum melihat tanda dari Tuhan terkait dengan pergumulan kita. Berserah dan percaya pada Kristus bukan berarti kita tidak berupaya apa-apa tapi bukan pula kita berupaya dalam kekhawatiran seakan tidak ada kuasa Tuhan yang mampu mengatasi pergumulan kita.
Ketaatan kita akan FirmanNya menjadi dasar tindakan kita dalam mengatasi pergumulan hidup. Pergumulan hidup yang berat kadang kala diibaratkan sebagai “kematian”. Kematian dalam keuangan, relasi dengan sesama, relasi dalam keluarga bahkan relasi dengan Tuhan sendiri. Percayalah pada Kristus dengan menaati FirmanNya maka hidup kita akan dipulihkan, hidup kita kembali “dihidupkan” serta kemuliaan Allah dinyatakan atas kita.
~boed~